Sayyid Seif Alwi Imbau Umat Selektif Memilih Ulama dan Waspadai Provokasi Berkedok Nasab

Seorang tokoh agama, Sayyid Seif Alwi dalam sebuah ceramah yang beredar di media sosial mengajak masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih panutan
Warta Batavia - Seorang tokoh agama, Sayyid Seif Alwi dalam sebuah ceramah yang beredar di media sosial mengajak masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih panutan keagamaan serta tidak mudah terpengaruh oleh figur yang dinilai hanya pandai berbicara tanpa memiliki kapasitas keilmuan yang memadai.

Dalam ceramah tersebut, ia menegaskan bahwa kemampuan berbicara tidak selalu identik dengan kualitas keulamaan. Menurutnya, ada perbedaan antara ulama, orator, motivator, hingga provokator yang dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat.

“Orang yang pintar bicara belum tentu ulama. Banyak yang hanya menjadi orator, motivator, bahkan provokator untuk perpecahan bangsa dan negara,” ujarnya.

Sayyid Seif Alwi Imbau Umat Selektif Memilih Ulama dan Waspadai Provokasi Berkedok Nasab


Habaib Mengaku Keturunan Nabi Muhammad SAW

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan atribut keturunan, pakaian, maupun penampilan sebagai tolok ukur utama dalam mengikuti seseorang. Dalam pandangannya, kemuliaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh nasab atau garis keturunan.

Dalam ceramah tersebut, ia menyinggung fenomena sebagian orang yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW namun dinilai terlalu membanggakan nasab. Ia menyebut sikap demikian bertentangan dengan keteladanan Rasulullah SAW yang mengajarkan kerendahan hati.

“Kalau ada yang hanya membanggakan keturunan tetapi bersikap sombong, itu justru memalukan,” katanya.

Penggunaan istilah “habib”, “sayid”, dan “syarif”

Sayyid Seif Alwi juga membahas penggunaan istilah “habib”, “sayid”, dan “syarif” dalam sejarah Islam. Menurut penjelasannya, pada masa Rasulullah SAW istilah yang dikenal adalah “sayid”, sementara penggunaan istilah lain berkembang pada masa berikutnya.

Selain itu, ceramah tersebut banyak membahas tradisi manaqib dan tawasul kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang menurutnya telah lama mengakar dalam budaya keagamaan masyarakat Indonesia. Ia mengatakan tradisi itu diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari amaliah sejumlah kalangan pesantren dan tarekat.

Dalam penjelasannya, ia mengaitkan tradisi tersebut dengan keberadaan manuskrip-manuskrip kuno yang disimpan oleh keluarga-keluarga keturunan ulama dan wali di Nusantara. Manuskrip itu disebut berisi catatan silsilah serta sejarah perjuangan para ulama pada masa kolonial.

Menurutnya, pada masa penjajahan Belanda, sejumlah keluarga ulama dan pejuang memilih merahasiakan identitas dan silsilah keturunan mereka demi alasan keamanan. Anak-anak para pejuang disebut kerap dititipkan kepada murid atau loyalis untuk menghindari pengejaran penjajah.

Berdirinya Rabithah Alawiyah

Ceramah itu juga menyinggung berdirinya organisasi Rabithah Alawiyah pada masa kolonial Belanda. Ia menyebut organisasi tersebut dibentuk untuk mewadahi keturunan imigran Arab dan Yaman di Indonesia. Dalam keterangannya, ia mengaitkan sebagian kelompok keturunan Arab dengan kedekatan terhadap pemerintah kolonial pada masa itu.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa banyak manuskrip kuno keluarga wali dan kesultanan Nusantara yang baru mulai dibuka kembali dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, dokumen-dokumen tersebut memperlihatkan adanya garis keturunan sejumlah tokoh Nusantara kepada ulama besar dunia Islam, termasuk Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Pada bagian akhir ceramah, tokoh tersebut mengajak masyarakat Indonesia untuk percaya diri terhadap warisan budaya dan sejarah Nusantara. Ia menekankan bahwa bangsa Indonesia memiliki peradaban besar dan tidak perlu merasa rendah diri di hadapan bangsa lain.

“Bangsa Indonesia punya leluhur dan peradaban yang besar,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ceramah itu menuai beragam respons di media sosial. Sebagian warganet mendukung ajakan untuk memperkuat identitas kebangsaan dan sikap kritis terhadap figur publik, sementara sebagian lainnya menilai pernyataan tersebut perlu disikapi secara hati-hati agar tidak menimbulkan polemik baru di tengah masyarakat.



LihatTutupKomentar